Hubungan Sistem Pendidikan Prancis dan Indonesia - Mana yang lebih baik?

Pendidikan didefinisikan sebagai upaya untuk memanusiakan manusia atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani (Driyakarya, 1950). Dengan pendidikan, seseorang akan berjalan menuju tingkat kedewasaan yang sesungguhnya. Pendidikan merupakan hal yang sangat vital di setiap negara. Dengan pendidikan yang maju, maka sebuah bangsa juga akan menuju ke peradaban yang lebih tinggi. Di indonesia, pendidikan merupakan suatu kewajiban yang harus ditempuh setiap warga negaranya. 

Terdapat 3 jenis pendidikan di Indonesia yaitu pendidikan akademik, vokasi, dan profesi. Menurut penjelasan pada pasal 16 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 52 tahun 2016, Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi program diploma yang menyiapkan mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana terapan. Secara umum pendidikan vokasi merupakan nama lain dari program diploma yang sudah lama dikenal. Pendidikan vokasi juga merupakan sebutan lain dari pendidikan kejuruan. Sekolah vokasi di Indonesia merupakan salah satu bentuk dari upaya pemerintan untuk mewujudkan tenaga kerja yang siap terjun langsung ke dunia kerja maupun industri. Lulusan dari sekolah vokasi atau kejuruan biasanya menempuh program pendidikan diploma  (Diploma 1 , Diploma 2 , Diploma 3 ataupun Diploma 4 ) yang dapat di setarakan dengan program pendidikan strata 1 dimana lulusan dari pendidikan vokasi akan mendapat gelar diploma.

Di negara yang menerapkan pendidikan vokasi seperti Perancis mengguakan sistem pendidikan yang tersentral. Tersentral di sini di artikan bahwa pemerintah pusat berperan penting dalam setiap pengambilan keputusan dalam urusan pendidikan di negara tersebut serta sudah terciptanya hubungan yang sesuai antar pihak pendidikan dengan pihak industri atau dunia kerja.

Sistem Persekolahan

Sistem persekolahan di Prancis hampir serupa dengan di Indonesia. Mereka mengenal 3 jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Sistem perjenjangan pendidikan tersebut antara lain:

1) Pendidikan Dasar (Enseignement Primarie) //Input apa yang di pelajari disini

Pada pendidikan dasar, siswa umumnya masuk jenjang ini saat berusia dua hingga sebelas tahun. Pemerintah Prancis mewajibkan setiap penduduknya untuk mengenyam pendidikan sejak dini. Pada jenjang ini, ada dua pengelompokan yang dibuat pemerintah setempat. Dua kelompok tersebut adalah pendidikan pra-sekolah dan pendidikan rendah.

Pendidikan pre-sekolah merupakan jenjang pendidikan paling rendah yang ada di Prancis. Pada jenjang ini, umumnya siswa berumur dua sampai enam tahun. Di jenjang ini, para siswa diajarkan secara bertahap dasar-dasar pendidikan seperti membaca, menulis, berhitung, maupun mengimajinasikan serta mengekspresikan pikiran mereka. Ada empat jenjang yang terdapat di pendidikan pra-sekolah. Bagian tersebut seperti Toute Petite Section (usia 2 tahun), Petit Section (usia 3 tahun), Moyen Section (usia 4 tahun), Grand Section (usia 5 tahun). Pendidikan jenjang ini setara dengan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Setelah lulus dari pendidikan pra-sekolah, siswa akan melanjutkan ke jenjang pendidikan rendah. Pada jenjang ini, siswa mulai diajarkan untuk berpikir kreatif serta mampu mengaplikasikan pemikirannya secara bertahap. Terdapat 5 jenjang pada pendidikan rendah seperti Cours Prepartorie (umur 6 tahun), Cours Elementaire 1 (umur 7 tahun), Cours Elementaire 2 (umur 8 tahun), Cours Moyen 1 (umur 9 tahun), dan yang terakhir yaitu Cours Moyen 2 (umur 10 tahun). Jenjang ini mirip seperti sistem kelas yang ada di Indonesia. Setelah lulus dari jenjang ini, para siswa akan melanjutkan ke Pendidikan Menengah (Enseigment Secondaire).

2) Pendidikan Menengah (Enseigment Secondaire)

Pendidikan Menengah di Prancis dimulai ketika siswa telah menyelesaikan pendidikannya di jenjang pendidikan dasar. Umumnya, siswa yang melanjutkan pendidikan di jenjang ini berusia sekitar 11 tahun (setara kelas 6 SD di Indonesia). Di pendidikan menengah dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu jenjang Pendidikan Menengah Pertama (College) dan Pendidikan Menengah Atas (Lycee).

Pada pendidikan menengah atau College, terdapat 4 tingkatan kelas. Keempat tingkatan tersebut antara lain 1ere cycle 6eme (setara kelas 6 SD di Indonesia), 1ere cycle 5eme (setara kelas 1 SMP di Indonesia), 1ere cycle 4eme (setara kelas 2 SMP di Indonesia), 1ere cycle 3eme (setara kelas 3 SMP di Indonesia). Setelah lulus dari College, maka ada dua pilihan yang bisa dipilih oleh siswa yaitu jurusan Baccaulreat yang merupakan jalur umum dan jurusan CAP/BEP yang merupakan jalur professional.

Siswa yang memilih jalur baccaulreat akan masuk ke pendidikan menengah atas (lycee) yang memiliki 3 tingkatan. Tingkatan tersebut antara lain 2eme cycle 2 eme (setara kelas 1 SMA), 2eme cycle 1 ere (setara kelas 2 SMA), dan Terminal (setara kelas 3 SMA). Setelah lulus dari jenjang pendidikan menengah, maka siswa akan mendapatkan gelar BAC (Baccaulreat) sesuai jurusan yang diambil di kelas. Setelah lulus, mereka dapat memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja.

3) Perguruan Tinggi (Enseigment Superieur)

Siswa lulusan pendidikan menengah yang ingin melanjutkan studinya akan menuju jenjang Perguruan Tinggi (Superieur).  Terdapat dua kategori perguruan tinggi yang ada di Prancis yaitu Universitas (Universites) yang berada di bawah naungan Kementrian Pemuda, dan Grandes Ecoles yang berada dibawah naungan Kementrian Teknik. Grandes Ecoles inilah yang biasa kita kenal dengan sekolah vokasi di Indonesia. Berbeda dengan negara kita, predikat Grandes Ecoles lebih tinggi dibanding Universitas. Ujian masuk ke Grandes Ecoles lebih sulit sehingga dapat dikatakan memiliki level yang lebih tinggi. 

Pada jenjang perguruan tinggi, lama studi yang ditempuh umumnya 5 tahun. Pada Grandes Ecoles dan Universitas memiliki sistem yang berbeda, namun memiliki tingkatan yang sama. Pada Ecoles, terdapat masa persiapan (Preparation) selama 2 tahun. Pada masa persiapan ini, seseorang baru dikatakan sebagai calon mahasiswa. Jika seseorang belum memenuhi kualifikasi untuk naik ke tingkat Ecoles, maka mereka akan gugur. Sedangkan pada tingkatan universitas, ada 5 tingkatan yaitu License 1, License 2, License 3, Master 1, dan Master 2. Seseorang lulusan License 3 setara dengan lulusan S1 di Indonesia atau lulusan Ecoles tahun pertama. Untuk pendidikan doktoral, penyelanggaraan pendidikan dilaksanakan secara bersama oleh beberapa instansi (Ecoles dan Universitas) dengan berbekal syarat kelulusan dari tim professeur.

Ijazah pendidikan tinggi Prancis terstruktur mengikuti sistem dan aturan Uni Eropa dan LMD yang diambil sebagai referensi tahun akademik atau semester akademik yang divalidasi sejak masuk ke institusi pendidikan tinggi dan penyetaraannya dalam ECTS (European Credit Transfer System/ sistem transfer kredit Eropa) :
a) Licence (S1) 6 semester = 180 ECTS (SMA + 3 tahun)
b) Master (S2)  10 semester = 300 ECTS (SMA + 5 tahun)
c) Doctoral (S3)  16 semester (SMA + 8 tahun)

Sistem Pembelajaran

Sistem pembelajaran di negara Prancis sedikit berbeda dengan di Indonesia. Di Prancis, pemerintah mewajibkan para warga negaranya untuk mengenyam pendidikan selama 15 tahun. Sistem pendidikan di Prancis sudah digalakan sejak usia dini, sehingga pendidikan merupakan aspek yang sangat penting di Prancis. Sesuai dengan peraturan dalam “La loi d’orientation sur l’√©ducation”  nomor 89-486 tertanggal 10 Juli 1989 menegaskan “Pendidikan menempati urusan pertama dalam skala prioritas nasional Prancis. Pendidikan adalah suatu hak dan sekaligus kewajiban bagi anak antara umur enam hingga 16 tahun sehingga semua beban biaya sepenuhnya merupakan tanggung jawab pemerintah”. Pendidikan sangat berperan penting dalam kemajuan untuk Perancis sendiri. Dalam buku yang berjudul France yang diterbitkan oleh Kementerian Luar Negeri Perancis (Ministere des Affaires Etrangeres), disebutkan bahwa di Perancis terdapat lebih dari 20 juta pelajar dan mahasiswa yang belajar pada tahun 2004 sampai tahun 2005. 

Sistem yang baik juga di tunjang dengan sumber daya pengajar yang berkualitas. Untuk menjadi tenaga pengajar tidaklah mudah karena akan menjadi tulang punggung dalam menjamin kualitas pendidikan bangsa, maka seleksinya pun sangat ketat. Jika seseorang diterima menjadi seorang guru, gaji bulanan yang paling rendah mencapai  25.000 euro atau sekitar Rp 30 juta, ditambah dengan berbagai fasilitas penunjang lainnya yang telah tersedia. Sehingga seorang pengajar benar-benar berkonsentrasi penuh dalam mengajar dan mencerdaskan para anak didik serta mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk melakukan yang terbaik.

Meskipun pemerintah Prancis tidak membedakan seseorang dalam dunia pendidikan, akan tetapi di Prancis mengenal istila separate class. Sistem ini merupakan sistem dengan menggunakan perbedaan kelas sesuai kemampuan individu. Seseorang dengan kemampuan yang tinggi, maka akan ditempatkan di kelas yang berbeda dengan seseorang dengan kemampuan rendah. Pendidikan di Prancis juga berfokus pada minat, bakat, dan konseptual. Dengan sistem pendidikan yang fleksibel, peserta didik dapat memilih jurusan yang ia minati dengan berfokus pada bakat dan minatnya. Ada beberapa tuntutan yang perlu dikuasai oleh lulusan di Prancis sebagai bekal potensi agar setelah lulus dapat bekerja secara profesional. Tuntutan tersebut antara lain:
Penguasaan Bahasa Prancis
Elemen Dasar dari Matematika, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi
Teknik umum komukasi dan pencarian informasi
Para Humaniora
Sosial dan Tanggung Jawab Kemasyarakat
Otonomi dan Inisiatif

Di negara Prancis mengenal pendidikan dengan sistem tersentral. Tersentral di sini di artikan bahwa pemerintah pusat berperan penting dalam setiap pengambilan keputusan dalam urusan pendidikan di negara tersebut serta sudah terciptanya hubungan yang sesuai antar pihak pendidikan dengan pihak industri atau dunia kerja.


Hubungan Sekolah dan Pasar Kerja

Negara Prancis terkenal dengan sistem pengaplikasian pendidikannya di kehidupan nyata. Bisa terlihat banyaknya hasil-hasil nyata dari lulusan pendidikan yang tersebar di negara tersebut. Hubungan antara sekolah dan pasar kerja terutama di bidang industri sangatlah baik. Terjalin hubungan yang dinamis antara instansi pendidikan dengan lapangan pekerjaan sehingga dikenal dengan istilah link and match.

Di sektor industri, hampir sebagian besar pekerjanya merupakan lulusan dari negara sendiri. Lulusan dari negara ini akan berhubungan langsung dengan pasar kerja. Terdapat kurang lebih 250 sekolah vokasi yang tersebar di negara ini. Para lulusan akan dibagi menjadi dua. Mereka akan diurus oleh Conference des Grandes Escoles (CGE) yang merupakan konferensi sekolah Grandes Escoles. Komisi ini bertugas menyalurkan lulusan Grandes Escoles ke berbagai pasar kerja maupun industri-industri yang membuka lapangan pekerjaan. Komisi ini berada dibawah kementrian teknik sehingga akan lebih bermuara ke bidang keteknikan. Selain Conference des Grandes Escoles (CGE), terdapat komisi lain yaitu Conference des Directeurs des Escoles Francaises d’Ingenrius (CDEFI) yang juga mengatur para lulusan sekolah vokasi. Nantinya, para lulusan akan diberi sertifikasi oleh Comission des Titres d’Ingerius (CTI) yang merupakan komisi gelar insinyur di Prancis. Setelah diberi sertifikasi, maka para lulusan dianggap layak bekerja secara profesional dan bisa langsung bekerja di pasar kerja maupun industri.

Perbandingan Pendidikan Teknik Kejuruan/Vokasi antara Prancis dan Indonesia

Perbandingan pendidikan kejuruan di Prancis dan Indonesia cukup mencolok. Di negara kita, sistme link and match masih belum berjalan dengan baik. Hal ini mengakibatkan ketidaksesuaian antara lulusan dan pekerjaannya cukup tinggi. Selain itu, di Indonesia, pendidikan vokasi cenderung dipandang sebelah mata. Banyak yang lebih memilih melanjutkannya ke studi yang bersifat umum. Ini disebabkan tidak adanya peraturan yang jelas sehingga tidak ada pengatur dalam pendidikan vokasi.

Di negara Prancis, pendidikan vokasi sangat diminati. Bahkan, penyeleksian yang ketat dan sulit dilakukan untuk masuk ke sekolah vokasi. Sekolah vokasi di negara Prancis berada di bawah naungan kementrian teknik. Berbeda dengan negara kita, dimana entah itu sekolah vokasi ataupun umum berada di bawah kementrian pendidikan. Hal ini menyebabkan sistem link and match  di Prancis berjalan sangat baik. Lulusan dari sekolah vokasi sangat diminati dikalangan pasar kerja.

Pendidikan komparatif merupakan salah satu fondasi yang memeperkokoh bangunan ilmu pengetahian (Rohman, 2010). Hal ini dikarenkana melalui komparasi terhadap sistem pendidikan yang ada di negara lain, dapat dijadikan sebagai reverebsi dalam upaya perbaikan mutu pendidikan bangsa. Perbandingan sistem pendidikan yang ada di Indonesia dengan Perancis dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain:

1. Jenjang Pendidikan

Perbandingan Jenjang Pendidikan Prancis dan Indonesia

2. Sistem Pendidikan

Prancis
Menggunakan sistem sentralistik yakni pendidikan yang dipusatkan sepenuhnya kepada pemerintah. Jadi, kementrian pendidikan (biasa disebut Ministry of National Education) memiliki peran urgent dalam kemajuan pendidikan secara keseluruhan. Selain itu, pemerintah juga menekankan akan adanya wajib belajar 16 tahun dengan penerapan  sistem sekolah gratis untuk setiap jenjang pendidikan

Indonesia
Menggunakan sistem desentralisasi yakni pemerintah menyerahkan masalah pendidikan ke daerah dan sekolah masing-masing, maka masalah pembiayaan pun menjadi kewenangan sekolah. Otonomi daerah diartikan sebagai kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan diharapkan dapat mensejahterakan rakyat setempat, meringankan beban hidup, memberi jaminan kelayakan hidup, terpenuhinya layanan kesehatan dan pemerataan pendidikan serta harapan-harapan menggembirakan lainnya. Pemerintah mewajibkan belajar bagi anak-anak Indonesia selama 12 tahun

3. Gaji Guru

Seorang dalam posisi guru senior di Perancis, misalnya, ia memperoleh penghasilan bulanan sekitar 40.000-50.000 euro (sekitar Rp 50 juta-Rp 60 juta per bulan). Jika dibandingkan dengan gaji guru besar di Indonesia yang sekitar Rp 2 juta ( Data Tahun 2005 ). Untuk menjadi tenaga guru, termasuk dosen, tidaklah mudah karena ia akan menjadi tulang punggung dalam menjamin kualitas pendidikan bangsa. Jika ia diterima menjadi seorang guru, gajinya per bulan yang paling rendah adalah sekitar 25.000 euro atau sekitar Rp 30 juta, ditambah dengan berbagai fasilitas penunjang lainnya, semua sudah tersedia, rumah, kendaraan, kebutuhan hidup, jaminan kesehatan, tunjangan hari tua, semua sudah ditanggung oleh pemerintah

Berdasarkan topik bahasan di atas, terdapat beberapa perbedaan antara sistem pendidikan di Prancis dengan Indonesia. Di negara Prancis, sistem pendidikannya merupakan sistem sentralisasi dimana pendidikan dipusatkan secara penuh kepada pemerintah. Sedangkan di Indonesia, penyelenggaraan pendidikan lebih menggunakan sistem desentralisasi dimana pemerintah memberi kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengatur pendidikan di daerah otonomnya. Hal yang paling mencolok adalah perbedaan kondisi lulusan di negara Indonesia dan Prancis. Di negara Prancis, para lulusan  difasilitasi oleh pemerintah sehingga memiliki hubungan kerja sama langsung dengan pasar kerja. Dengan begitu, nasib para lulusan di Prancis sudah tentu. Berbeda dengan di Indonesia, walupun terdapat BLK tetapi tetap saja fungsinya belum optimal, sehingga para lulusan masih perlu mencari pekerjaan secara mandiri.

Sumber:
Djojonegoro, Wardiman. 1996. 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia. Jakarta: Depdikbud

Matrisoni. 2005.  Pendidikan Dasar Dan Menengah Di Perancis. Dalam situs Orang Indonesia Asli, Teknologi Pengolahan Hasil perkebunan and Habibie personal Blog yang diunduh pada Selasa 25 Oktober 2011.

Rohman, Arif. 2010. Pendidikan Komparatif. Yogyakarta: Laksbang Grafika

Susanto, dkk. 2010. Pendidikan Nasional Pendidikan Pada Periode 1962-1968. Dalam makalah Pendidikan Nasional 2010.

Ediarti, Annisa. 2018. Sistem Pendidikan di Prancis. http://ediartic.blogspot.com/2013/07/sistem-pendidikan-di-prancis.html diakses 28 Oktober 2018



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hubungan Sistem Pendidikan Prancis dan Indonesia - Mana yang lebih baik?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel