Tantangan Pendidikan Teknologi Kejuruan (Vokasi) pada Era Disrupsi

Sumber: lpmplampung.kemdikbud.go.id

Peran perguruan tinggi sebagai penghasil calon guru dalam menghadapi era disrupsi

Suatu perguruan tinggi memiliki peran yang sangat vital dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satunya adalah mencetak lulusan-lulusan terdidik agar mampu menjalankan peran dalam negara modern. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran yang sangat besar sebagai penghasil calon guru. Sebuah perguruan tinggi harus mampu memberikan pemahaman dan mengembangkan ilmu-ilmu dasar yang memiliki kegunaan praktis bagi masa depan. Untuk mecapai tujuan dari peguruan tinggi tersebut, maka para mahasiswa memiliki peran yang sama dengan perguruan tinggi. Perguruan tinggi tentu harus mempersiapkan seorang calon guru, agar nantinya calon guru tersebut mampu menghadapi era disrupsi yang akan terjadi. 

Sebagai penghasil calon guru, perguruan tinggi perlu mengembangkan program kependidikan. Yang pertama yaitu dengan melakukan penelitian yang komperehensif. Perguruan tinggi perlu mengkaji dan mengembangkan profil atau standar kompetensi guru. Kedua, diperlukannya pengembangan kurikulum secara khusus untuk mengakomodasikan program calon guru. Ketiga, perguruan tinggi berperan dalam menyediakan tenaga pengajar atau dosen, dan tenaga pendukung yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai.

Selain perguruan tinggi, bagi tenaga pengajar khususnya seorang guru tentu memiliki peran dalam era disrupsi ini. Seorang guru dituntut untuk lebih bisa menggali informasi dan mengikuti perkembangan zaman. Mereka harus mampu untuk memberi informasi yang lebih kepada siswanya dengan melakukan pengembangan diri. Para guru maupun siswanya dituntun untuk selalu melakukan perubahan. Dengan kemajuan teknologi, informasi dapat ditemukan secara mudah dan cuma-cuma. Namun, peran pendidik hanya bisa dijalankan oleh tenaga pendidik yang tidak hanya meningkatkan kompetensi siswa, namun juga menanamkan nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip kemanusiaan. Selain itu, seorang guru perlu mengintegritaskan antara soft skill dan hard skill yang dimiliki oleh peserta didiknya agar mampu menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan bekerja dan berkembang di masa yang akan datang.


Tantangan pendidikan kejuruan/vokasi menghadapi pembelajaran MOOC (Massive Open Online Courses).

MOOC (Massive Open Online Courses) merupakan suatu sistem pembelajaran yang memiliki banyak manfaat. Dengan memanfaatkan MOOC, kita memiliki metode belajar jarak jauh dengan skala yang besar, gratis dan bisa diakses siapa saja dan dimana saja. Akan tetapi, pendidikan vokasi yang menitik beratkan pembelajaran pada proses, tentu memiliki tantangan dalam menghadapi pembelajaran MOOC ini. Tantangan tersebut antara lain:

1) Memerlukan modal yang besar dan fasilitas yang memadai
Dalam menghadapi pembelajaran MOOC, sangat diperlukan modal yang besar dan juga fasilitas yang bisa menopang pembelajaran seperti internet yang memadai, perangkat komputer, maupun fasilitas-fasilitas lainnya. Dalam penerapannya, tentu sekolah dituntut untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan dalam pembelajaran MOOC. Hal ini mungkin dapat membebankan ekonomi dari setiap sekolah yang dimana justru beberapa sekolah pun saat ini belum memiliki fasilitas yang lengkap sebagai sekolah vokasi.

2) Guru maupun siswa yang belum siap
Selain memerlukan dana yang cukup besar, tentu metode ini memerlukan kesiapan baik dari siswa maupun guru. Perubahan metode dari sistem kelas dengan tatap muka secara langsung, yang kini dilakukan dengan metode jarak jauh akan membingungkan siswa maupun guru. Selain itu, seorang guru yang biasa melakukan metode pembelajarannya sendiri, perlu menyisihkan waktu untuk berlatih metode pembelajaran ini. Sehingga pembelajaran MOOC ini memerlukan waktu persiapa sebelum bisa diimplementasikan di Indonesia.

3) Tuntuan guru yang harus multitalenta
Dalam menghadapi perubahan yang disruptif ini, seorang guru dituntut untuk memiliki lebih dari satu bidang keahlian. Tenaga pengajar nantinya harus mampu menguasai berbagai bidang dan topik atau isu secara multi-,inter-, hingga transdisiplin. Sehingga seorang tenaga pengajar memerlukan waktu untuk mengikuti perkembangan agar mampu mengajar sesuai perkembangan zaman.

Kemungkinan pendidikan kejuruan/vokasi untuk mengembangkan “kurikulum pribadi” dengan adanya era disrupsi.

Berdasarkan dampak dari MOOC bagi perkembangan pendidikan di Indonesia, terutama di pendidikan vokasi, pengembangan sistem kurikulum pribadi sangat mungkin terjadi di era disrupsi. Namun dalam pelaksanaannya, sistem kurikulum pribadi ini bukan berarti terlepas dari aturan pemerintah yang ada. Sistem kurikulum pribadi nantinya sangat memungkinkan diterapkan secara nasional. Hal ini sesuai dengan sistem pendidikan kita sehingga dalam pelaksanaannya, sistem ini tetap mengikuti ketentuan yang sudah diterapkan sesuai kurikulum nasional kita.pengembangan sistem kurikulum pribadi tidak terlepas dari dampak perkembangan zaman dimana sistem pendidikan kita harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Dalam hal ini, tentu kita dituntut untuk selalu berkreasi dan menjadi seorang fasilitator yang handal guna mengikuti peran yang terjadi.

Tantangan pendekatan/penyelenggaraan monodisiplin pada pendidikan kejuruan/vokasi?

Pendekatan monodisiplin merupakan suatu pendekatan berbahan pelajaran di organisasi atau bertitik tolak murni berdasarkan disiplin ilmu yang bersangkutan tanpa mempertautkan dengan cabang ilmu lainnya. Pendekatan monodisiplin merupakan pendekatan yang hanya fokus di satu bidang dan tidak menjurus ke bidang lainnya. Ada beberapa tantangan terhadap pendekatan monodisiplin terhadap penyelenggaraan sekolah vokasi di Indonesia.

Pendekatan monodispilin dianggap kurang cocok di dalam sistem pembelajaran. Di sekolah vokasi, walaupun kita dijuruskan dalam bidang masing-masingg, tapi kita tetap dituntut untuk bisa menyatukan informasi, data, teknik, alat-alat, perspektif, konsep, dan teori dari dua disiplin ilmu atau lebih. Sebagai contoh, ketika menggeluti bidang komputer, tentu kita memerlukan pendalaman dari disiplin ilmu yang lain seperti matematika, ataupun bidang lainnya. Dalam hal ini, pendekatan monodisiplin dianggap kurang relevan terhadap penyelenggaraan sekolah vokasi di Indonesia. 
 
Daftar Pustaka
Supriyadi, Edy. (2010). Peran Perguruan Tinggi Dalam Menyiapkan Calon Guru Sekolah Bertaraf Internasional. Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Rahdiyanta, Dwi. (2014). Tantangan Pendidikan Teknologi Kejuruan. Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Oey-Gardiner, M., dkk. (2017). Era Disrupsi Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Indonesia, cetakan II. Jakarta: Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tantangan Pendidikan Teknologi Kejuruan (Vokasi) pada Era Disrupsi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel